Postingan

Tunjangan Guru.

Gambar
Kamis Menulis Edisi 01,09 2022. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menyatakan bahwa  penghapusan tunjangan profesi guru dan dosen dari Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) sama saja mematikan pekerjaan para pendidik. Demikian disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Ibu Unifah Rosyidi, dalam keterangan pers pada Minggu (28/8/2022), seperti dikutip dari Antara.  Saya sepakat dengan pendapat ibu ketua umum PGRi di atas. Upaya pemerintah sepertinya masih belum juga efektif dalam mensejahtrakan para guru dosen dan para arsitek peradaban ini, padahal kemajuan bangsa dan negara ada di tangan pendidik, adalah hal yang wajar jika  kesejahteraan guru, dosen dan pendidik diperhatikan.  Benar bahwa, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, artinya mereka bekerja dengan hati tak perlu diberi tanda jasa, ikhlas demi bangsa dan negara, tapi tunggu dulu, pemahaman ini juga harus di luruskan. Pahlawan tanpa tanda jasa adalah nila

Cerpen Penggemar Misterius

Gambar
 Ting! Sebuah pesan dengan nomor tidak dikenal masuk. [Hai Vio sayang, boleh minta tanda tangan ngga? Kalau ngga, tanda kaki juga boleh] Aku memilih mengabaikannya. Bukan apa-apa, aku malas jika harus meladeni pesan dari orang yang tidak dikenal. Ting! Pesan susulan kembali masuk dari nomor yang sama.  [Sudah makan? Sudah sholat? Jangan lupa makan meskipun banyak aktifitas ya?] 'Siapa ini?' batinku. Aku hendak membalas pesan itu untuk memastikan siapa pengirimnya, namun kuurungkan. 'Paling anak alay yang lagi modus.' Ting! Nomor tanpa nama itu lagi! Cukup sudah, aku penasaran sekarang. [Hei sayang, cape ya? Ke kantin Mbak Entin ya, udah aku pesenin makan siang dan jus jambu kesukaanmu] Tanpa pikir panjang aku segera menuju ke kantin yang terletak di belakang kampus tempat biasa aku makan bersama dengan Sisil, sahabatku yang baik hati. *** Tiba di kantin aku kembali dikagetkan dengan kedatangan Mbak Entin dengan nampan yang penuh makanan. "Nih Vio buat kamu," u

Sudah Siapkah Dana Pensiun

Gambar
Terlahir dari Kedua orang tua Pegawai Negri yang  memiliki dana pensiun, membuat saya tidak hawatir akan kebutuhan hidup orang tua, karena dengan dana pensiun almarhum ayah dan pensiun ibu, telah cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari sang ibu di usia senjanya. Selain dana pensiun, juga ditambah dari hasil pertanian meski tidak seberapa, orang tua saya mampu mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, tanpa harus pusing, tanpa harus mengandalkan anak-anak,  bahkan sering dijakan andalan tetangga  meminta tolong dan mampu memberi jajan pada cucu-cucu nya. Saat ini hidup orang tua saya dalam hal ini ibu, hanya di rumah, mengisi waktu bermain dengan anak dan cucu. Selayaknya demikianlah kehidupan kita ketika telah memasuki usia senja, tinggal duduk beristirahat dan lebih fokus beribadah untuk mempersiapkan kepulangan ke negri Abadi.  Kondisi ideal yang ada pada orang tua saya, membuat saya berpikir, lantas  bagaimana dengan saya, apakah saya telah memiliki bekal, berupa dana pensiun  untuk hari tua

Banyak Mendengar Sedikit Bicara

Gambar
Banyak Mendengar Sedikit Bicara  Allah menciptakan 2 mata 2 telinga 1 mulut agar lebih jeli melihat, lebih banyak mendengar, lebih sedikit bicara,  Ibnu Hibban rahimahullah menuturkan, Hendaklah seorang yang berakal lebih banyak menggunakan kedua telinga daripada satu mulutnya. Agar sadar bahwa ia dikaruniai dua telinga dan satu mulut supaya lebih banyak mendengar daripada berbicara. (Raudhatul 'Uqala: 47)  Manusia memerlukan waktu dua tahun untuk belajar berbicara. Tapi ternyata membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk belajar diam. Diam dari membicarakan hal yang tidak perlu. Diam untuk mampu bersabar menyimak mendengarkan pembicaraan orang.  Kompasianer, jumpa lagi dengan saya Arofiah Afifi. Sadar ga sih kalo selama ini kita banyak sekali berbicara dan sangat jarang mendengarkan, setiap orang selalu ingin berbicara dan ingin didengar, namun sedikit dari kita yang bisa diam dan mau mendengarkan . Coba ingat-ingat, hari ini kita sudah mendengarkan nasihat siap ? Mendengarkan keluh k

Belajar Dari Cacing

Gambar
 *BELAJAR DARI CACING TANAH* "Hai murid , tahukah engkau ketika jenazah dikuburkan ke dalam liang lahat, bagian mana yang akan dimakan cacing tanah terlebih dahulu?" Tanya seorang guru kepada muridnya  Murid menggelng tanda  tidak tahu,  "Sang guru melanjutkan ucapannya  "Yang pertama dimakan cacing tanah adalah lidah dari jenazah tersebut! . " Al-Allamah Al-Habib Abdul Qadir Banahsan, seorang ulama di Betawi pada zaman dulu. Apa pesan singkat yang dapat kita ambil ? bahwa cacing-cacing tanah tersebut bergerak sesuai dengan kehendak Allah. Kita tentu sering mendengar banyak kisah bahwa ada jenazah seorang manusia tetap utuh meski sudah dikebumikan bertahun-tahun. Apa gerangan yang terjadi? Ketika Allah berkehendak melindungi jenazah hamba-Nya yang saleh, maka dicegah-Nya cacing-cacing tersebut memangsa bagian lidah dari jenazah itu.  Apabila lidahnya tak jadi dilumat para cacing, maka hewan berbadan panjang itu juga tak akan melumat bagian tubuh yang lain. Dapa

Ayahku Seorang Pejuang

Gambar
Ayah adalah seorang pejuang kemerdekaan. Aku mengenalnya dengan baik, seorang kepala keluarga yang tegas, keras berani dan berprinsip. Kata ibu sifat ayah banyak menurun padaku, perempuan keras tegas, berani dan pantang kompromi untuk urusan kebatilan.  Bangga rasanya memiliki banyak sifat ayah, meskipun begitu kami yang sesama keras sering sekali tidak akurnya. Seperti ketika ayah meminta saya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang formal, saya lebih memilih sering kabur dari sekolah dan meminta dikirim ke pesantren saja sejak usia 12 tahun. Iya karena ayah, selain seorang pejuang, beliau adalah ulama ditengah masyarakat, maka itulah alsannya kenapa saya lebih memilih pesantren. Berharap kelak bisa jadi ulama sepeti ayah. Di lingkungan rumah  yang seadanya, terdapat jejeran Kobong tempat santri putra mengaji  kepada ayah, di Kobong itulah tak jarang ayah dan para tokoh berkumpul untuk merapatkan barisan perjuangan. Masih terpajang gagah di dinding rumah, foto ayah berseragam, dan konon

Iama Syafi'i ANAKKU KITA BERTEMU DI AKHIRAT SAJA

 ANAKKU KITA BERTEMU DI AKHIRAT SAJA (Kisah dan ibrah dari ibunda Imam Syafii) Imam Syafi’i tumbuh besar di Makkah sebagai anak yatim dan kurang mampu. Dengan keadaan seperti itu, ibunya selalu bekerja keras dan terus berjuang agar anaknya bisa belajar agama kepada ulama besar di Mekkah. Guru pertama Imam Syafii adalah Muslim bin Khalid Az. Zanjy, seorang ulama besar di Makkah. Pernah suatu ketika Ibu Imam Syafi’i sedang tidak mempunyai uang untuk membayar sekolah, dia menemui guru Imam Syafi’i dan memintanya untuk menjadikan Syafii pembantu gurunya sebagai ganti biaya sekolah. Imam Syafii sangat terharu akan hal ini, sehingga beliau tidak ingin menyia-nyiakan perjuangan ibunya. Imam Syafi’i bercerita, ibunya berusaha mendaftarkannya ke sebuah madrasah. Namun sayang, ibunya tak punya sepeser uang pun untuk membayar guru di sana. Sehingga ada kalanya sang guru tak mengajarkan pelajaran dengan sepenuh hati kepada Imam Syafi’i. Meskipun demikian, Imam Syafi’i tak berputus asa, ia tetap be